Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

14 Maret 2013

Seputar Nuzulul Qur'an (Turunnya Al-Qur'an)

Al-Qur’an -secara umum sebagai sebuah kitab suci- turun pertama kali kepada Rasulullah pada malam al-Qadr (Lailatul Qadr) pada bulan Ramadlan. Hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala (artinya):

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-Qadr (yang mulia)”. (Q.s.,al-Qadr: 1)

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan,[3]. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”[44]. (Q.s.,ad-Dukhan:4)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.s., al-Baqarah:185)

Umur Nabi ketika turun ayat pertama kali kepadanya adalah 40 tahun menurut pendapat yang masyhur dari para ulama. Yaitu, riwayat dari Ibn ‘Abbas, ‘Atha`, Sa’id bin al-Musayyib, dan periwayat selain mereka. Usia seperti ini adalah usia mencapai kematangan berfikir, kesempurnaan akal dan pandangan.

Yang membawa turun al-Qur’an dari Allah Ta’ala adalah malaikat Jibril, salah satu malaikat yang dekat kepada Allah dan mulia. Allah Ta’ala berfirman mengenai al-Qur’an (artinya):

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), [193]. ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, [194]. dengan bahasa Arab yang jelas”.[195]. {Q.s., asy-Syu’arâ`: 193-195}

Malaikat Jibril ini memiliki sifat-sifat yang layak dimilikinya sebagai utusan Allah untuk para Rasul-Nya. Padanya ada sifat mulia, kuat, dekat kepada Allah, memiliki kedudukan dan terhormat di kalangan para malaikat lainnya, amanah, bagus dan suci. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman (artinya):

Sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang bibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),[19]. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy”[20]. {Q.s.,at-Takwir: 19-20}

Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat Jibril yang membawa turun al-Qur’an dari sisi-Nya. Sifat-sifat itu juga menunjukkan betapa agungnya al-Qur’an dan ‘inayah Allah terhadapnya sebab Dia tidak mengutus orang yang agung kecuali dengan hal-hal yang agung pula.

Ayat-Ayat al-Qur’an Pertama Yang Turun

Secara mutlaq dan qath’i (pasti), ayat al-Qur’an pertama yang turun adalah lima ayat pertama dari surat al-‘Alaq. Kemudian wahyu mengalami masa stagnan (terputus untuk beberapa waktu), kemudian barulah turun lima ayat pertama dari surat al-Muddatstsir.

Di dalam kitab ash-Shahîhain, dari ‘Aisyah radliyallâhu 'anha di dalam kitab ‘Bad`ul Wahyi, dia berkata: “…hingga akhirnya kebenaran datang kepada beliau saat berada di Gua Hira`, lalu datanglah malaikat sembari berkata kepadanya: “Bacalah!”. Lalu Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Selanjutnya di dalam hadits tersebut malaikat membacakan firman-Nya:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,[1]. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.[2]. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,[3]. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.[4]. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[5]”. (Q.s.,al-‘Alaq: 1-5).

Dalam kitab yang sama dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda ketika bercerita tentang masa stagnan turunnya wahyu: “Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit…”. (Dalam hal ini, beliau menyebutkan seterusnya cerita itu, di dalamnya beliau bersabda lagi) “…Maka Allah turunkanlah firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ {1} قُمْ فَأَنذِرْ {2} وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ {3} وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ {4} وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ {5}

Hai orang yang berkemul (berselimut), [1]. bangunlah, lalu berilah peringatan!,[2]. dan Rabbmu agungkanlah, [3]. dan pakaianmu bersihkanlah, [4]. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, [5]”. (Q,.s.al-Muddatstsir/74: 1-5).

Permulaan turunnya al-Qur’an yang disebutkan oleh Jabir tersebut dilihat dari aspek ayat pertama kali turun setelah masa stagnan turunnya wahyu atau ayat pertama kali turun berkenaan dengan ‘kerasulan’ beliau sebab ayat-ayat pada surat al-‘Alaq yang diturunkan tersebut menetapkan nubuwwah beliau sedangkan ayat-ayat pada surat al-Muddatstsir diturunkan dalam rangka menetapkan risalah (kerasulan) beliau Shallallâhu 'alaihi wa sallam, yaitu dalam firman-Nya (artinya): “Bangunlah, lalu berilah peringatan!”.

Oleh karena itu, para ulama berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam diangkat sebagai Nabi melalui ayat ‘Iqra`’ dan diangkat sebagai Rasul melalui surat ‘al-Muddatstsir’.

Turunnya al-Qur’an bersifat ‘Ibtidâ`iy’ dan ‘Sababy’

Al-Qur’an turun dalam dua klasifikasi:
Pertama, Secara Ibtidâ`iy’ ; yaitu turunnya tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu. Kondisi seperti inilah yang lebih dominan terjadi pada kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an. Diantaranya :

Firman-Nya (artinya):
Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah:’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh’” . (Q,.s.at-Tawbah/09: 75).

Ayat tersebut turun secara Ibtidâ`iy untuk menjelaskan kondisi sebagian orang-orang Munafiq. Sedangkan riwayat yang masyhur di kalangan banyak orang bahwa ia turun terhadap seorang shahabat, Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang amat panjang dan banyak sekali para Ahli Tafsir yang menyinggungnya serta sering dipublikasikan oleh para penceramah; riwayat tersebut Dla’if (lemah), tidak shahih sama sekali.

Kedua, Secara sababy ; yaitu turunnya didahului oleh sebab tertentu, diantara sebabnya tersebut:

    Bisa jadi berupa pertanyaan yang dijawab oleh Allah, seperti ayat (artinya):
    “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji’.” (Q.s.,al-Baqarah:189)

    Atau Suatu peristiwa yang terjadi dan memerlukan penjelasan dan peringatan, seperti firman-Nya:
    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ’Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’ .” (Q.s.at-Tawbah:65)

    Dua ayat tersebut turun terhadap seorang Munafiq yang berkata pada waktu perang (Ghazwah) Tabuk di dalam satu majlis: “Kita tidak pernah melihat orang seperti para Qurrâ` kita tersebut, lebih besar perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh”. Yang mereka tembak adalah Rasulullah dan para shahabatnya. Lantas hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan al-Qur’anpun sudah turun. Lalu datanglah seorang laki-laki ingin meminta ma’af kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam, lalu beliau menjawabnya:
    "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?." (Q.s.,at-Tawbah:65)

    Atau suatu perbuatan yang terjadi dan ia butuh penjelasan tentang hukumnya, seperti firman Allah:
    “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.s.,al-Mujâdilah:1)
Baca Selengkapnya

Susunan Al-Qur'an

Tartîb (Susunan) al-Qur’an artinya membacanya dengan sebagian mengikuti sebagian yang lainnya sesuai dengan yang tertulis di mushaf-mushaf dan yang dihafal di dada.

Dalam hal ini terdapat tiga klasifikasi:

Pertama, Susunan kata-kata. Setiap kata sudah eksis di posisinya dari ayat dan hal ini sudah valid berdasarkan nash dan ijma’. Mengenai kewajiban mengikuti hal itu dan keharaman menyelisihinya, kita tidak mengetahui ada pendapat yang menentangnya sehingga tidak boleh membaca,

الحمد لله رب العالمين

[al-Hamdulillâhi Rabbil ‘Alamîn]
dengan menggantinya,

لله الحمد رب العالمين

[Lillâhil Hamdu Rabbil ‘Alamîn]

Ke-dua, Susunan ayat-ayat. Setiap ayat sudah eksis di posisinya dari surat berdasarkan nash dan ijma’. Mengikuti hal ini adalah wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan haram menyelisihinya sehingga tidak boleh membaca,

الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين

[ar-Rahmânir Rahîm, Mâliki Yawmid Dîn]
dengan menggantinya,

مالك يوم الدين، الرحمن الرحيم

[Mâliki Yawmid Dîn, ar-Rahmânir Rahîm]

Di dalam Shahîh al-Bukhâry bahwasanya ‘Abdullah bin az-Zubair berkata kepada ‘Utsmân bin ‘Affân RA., mengenai firman Allah,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi bafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).” (al-Baqarah:240),
bahwa ayat ini telah di nasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat berikut ini,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.” (al-Baqarah:234). Padahal ayat yang ini (ayat 234) ada sebelumnya (ayat 240), kenapa engkau menulisnya?. Maka, ‘Usman radhiallahu 'anhu., menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku tidak mengubah sesuatupun dari posisinya…

Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`iy dan at-Turmudzy meriwayatkan dari hadits ‘Utsman radhiallahu 'anhu., bahwasanya surat-surat yang memiliki angka selalu diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka, bila ada sesuatu yang diturunkan kepadanya, beliau memanggil sebagian penulis seraya berkata, ‘Letakkan ayat-ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu…”

Ke-tiga, Susunan surat-surat. Setiap surat sudah eksis posisinya dari mushaf berdasarkan ijtihad sehingga tidak wajib hukumnya.
Di dalam Shahîh Muslim dari Hudzaifah al-Yaman radhiallahu 'anhu., bahwasanya pada suatu malam dia melakukan shalat bersama Nabi shallahu 'alaihi wasallam, lantas beliau shallallahu 'alaihi wasallam., membaca surat al-Baqarah, kemudian surat an-Nisâ`, kemudian surat Ali 'Imrân.

Imam al-Bukhâry juga meriwayatkan secara Mu’allaq dari al-Ahnaf bahwasanya beliau membaca pada raka’at pertama surat al-Kahfi dan pada raka’at kedua membaca surat Yûsuf atau Yûnus. Beliau (al-Bukhâry) juga menyebukan bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam., pernah juga melakukan shalat shubuh bersama ‘Umar bin al-Khaththâb dengan kedua ayat tersebut.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah berkata, “Boleh membaca surat ini sebelum surat ini, demikian juga menulisnya. Oleh karena itulah, ada beragam macam penulisan mushaf yang dikenal di kalangan para shahabat radhiallahu 'anhu. Sekalipun demikian, mereka tetap sepakat atas satu Mushaf pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu.

Jadi hal ini sudah menjadi sunnah para al-Khulafâ` ar-Râsyidûn sementara hadits Rasulullah menunjukkan bahwa sunnah mereka wajib diikuti.” [selesai ucapannya]

(SUMBER: Ushûl Fi at-Tafsîr karya Syaikh.Muhammad Shâlih al-‘Utsaimîn, h.19-21)
Baca Selengkapnya