Tampilkan postingan dengan label Mu'jizat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mu'jizat. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2013

Konsep Nabawi Menghindari Penyakit

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tutuplah belanga (tempat makanan) dan tempayan (tempat air) sebab dalam setahun itu ada suatu malam di mana penyakit (wabah) akan turun. Tidaklah ia melewati belanga atau tempayan yang tidak ditutup melainkan turun padanya penyakit (wabah) tersebut.” (HR.Muslim)

Bukti Ilmiah

Kedokteran modern telah menetapkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah peletak pertama konsep menjaga kesehatan sebagai antisipasi atas berjangkitnya wabah dan penyakit menular.

Ternyata telah terbukti bahwa memang penyakit-penyakit menular itu beraktifitas pada musim-musim tertentu dalam setahun. Bahkan, sebagiannya muncul setiap mencapai jumlah tertentu dalam beberapa tahun dan sesuai dengan sistem kerja yang demikian detail sehingga hingga kini belum diketahui apa penyebabnya.

Di antara contohnya adalah masalah kesuburan dan kelumpuhan pada anak yang banyak terjadi pada bulan September dan Oktober. Tifus banyak terjadi pada musim panas, kolera terjadi setiap tujuh tahun sekali dan gondok setiap tiga tahun sekali.

Hal ini merupakan penafsiran dari mukjizat ilmiah dalam ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Dalam setahun itu ada suatu malam di mana penyakit (wabah) akan turun,” yakni wabah-wabah musiman yang memiliki waktu-waktu tertentu.

Demikian pula, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyiratkan akan cara paling penting dalam menghindari penyakit (tindakan preventif) dalam sabdanya yang lain, “Hindarilah debu sebab di dalamnya terdapat bakteri.”

Di antara hakikat ilmiah yang belum dikenal kecuali setelah ditemukannya alat pembesar ‘mikroskop’ menyatakan bahwa sebagian penyakit menular berpindah melalui hujan ringan (rintik-rintik), tepatnya melalui udara yang terkontaminasi oleh debu sebagaimana bunyi hadits tersebut yang menggunakan lafazh “adz-Dzarr” (debu). Bakteri selalu terkait dengan butiran-butiran debu ketika ia dibawa oleh angin dan melalui proses itu sampailah ia dari si sakit kepada orang yang sehat.

Penamaan ‘bakteri’ (mikroba) yang dalam bahasa Arabnya (dalam teks hadits) menggunakan kata “Nasamah” merupakan penamaan yang sangat tepat. Hal ini telah dijelaskan seorang ahli bahasa bernama Fairuz Abady di dalam kamus “al-Muhiith” bahwa ia (kata Nasamah) diucapkan terhadap hewan paling kecil. Tentunya, tidak asing lagi bahwa bakteri memiliki sifat gerak dan hidup.

Adapun penamaan bakteri (Mikruub) di dalam tata bahasa Arab dengan kata “Jurtsuum” adalah penamaan yang tidak tepat dengan namanya sebab bila dikatakan “Jurtsuumatu kulli syai`in” artinya asalnya (segala sesuatu); maka termasuk juga serbuk kayu.

Di sinilah letak mukjizat kedokteran yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu a’lam.

(Sumber: kitab al-I’jaaz al-‘Ilmy Fi al-Islam Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya Muhammad Kamil ‘Abd ash-Shamad, sebagai yang redaksi nukil dari salah satu situs yang berkompeten tentang mukjizat ilmiah) 

www.alsofwah.or.id
Baca Selengkapnya

Kisah Meninggalnya Abu Dzar

Ketika Rasulullah telah pergi berlalu dengan para sahabat-sahabatnya dan ternyata ada orang-orang yang tidak ikut atau tertinggal. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, Fulan telah tertinggal". Maka Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya". Salah seorang sahabat ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, Abu Dzar telah tertinggal karena untanya lambat." Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya".

Dan Abu Dzar pun jadi tambah terlambat di atas untanya, maka ketika untanya tidak mampu berjalan lagi, maka Abu Dzar pun mengambil barang-barang bawaannya dan memanggulnya dan berjalan menyurusi jejak kaki Rasulullah. Dan Rasulullah pun turun dari kendaraanya dan kemudian salah seorang pengintai dari sahabat memandang ke jauh ke belakang, tiba-tiba ia berkata, "Wahai Rasulullah, Itu ada seorang laki-laki menuju kesini dengan berjalan kaki sendirian".

Maka Rasulullah bersabda, "Semoga benar dia Abu Dzar". Maka, ketika sekelompok sahabat memperhatikan dengan seksama, maka tiba-tiba mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar". Maka Rasulullah pun bersabda, "Semoga Allah mengasihi Abu Dzar, ia berjalan sendirian, dan meninggal sendirian, dan dibangkitkan kelak pun sendirian".

Dan sabda Rasulullah ini benar-benar terbukti, sebab Utsman bin Affan ketika itu ada perbedaan pendapat dengan Abu Dzar, dan Abu Dzar pun menjauh dan meninggalkan Utsman bin Affan. Dan tiada yang menemani kepergiannya kecuali isteri dan anaknya, maka beliau pun memberi wasiat kepada isteri dan anaknya itu agar keduanya yang memandikan dan mengkafaninya kalau ia meninggal. Kemudian, letakkanlah aku dipinggir jalan, dan katakanlah kepada orang pertama yang melewatiku bahwa ini adalah Abu Dzar, sahabat Rasulullah, tolonglah kami untuk menguburkannya."

Maka, tatkala Abu Dzar meninggal, keduanya pun melakukan apa yang diwasiatkannya, lalu meletakkan beliau di pinggir jalan.

Maka Abdulah bin Mas'ud dan sekelompok rombongan dari penduduk Iraq pun lewat untuk melakukan umrah. Tiada yang mereka dapati di perjalanan kecuali sebuah jenazah di pinggir jalan yang disampingnya ada seekor unta dan seorang anak yang sedang berdiri danberkata, "Ini adalah Abu Dzar sahabat Rasulullah, maka tolonglah kami untuk menguburkannya".

Maka, Abdullah bin Mas'ud pun menangis dan berkata, "Sungguh telah benar Rasulullah, beliau bersabda bahwa Abu Dzar, dia berjalan pergi sendirian, dan meninggalpun dalam kesendirian, dan akan dibangkitkan dalam kesendirian pula".

Kemudian, ibn Mas'ud pun turun dari kendaraannya, begitu juga para sahabatnya pun menguburkannya. Lalu Ibn Mas'ud pun menceritakan kepada mereka sebuah hadits, sebuah kisah yang di dalamnya Rasulullah bersabda tentang Abu Dzar ketika dalam suatu perjalanan menuju Tabuk. Nama asli Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah, meninggal pada tahun 32H.

Sumber: Min Mu'jizatin Nabiy shallalahu 'alaihi wa sallam
Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad Al-Salman
Baca Selengkapnya